Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts

Saturday, 13 February 2021

Doa Setelah Solat Sunnah

 


Pertanyaan:
Doa setelah shalat sunnah (seperti shalat Dhuha dan tahajud), apakah boleh sama seperti doa setelah shalat fardu?

Jawaban:
Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa suatu ibadah tidaklah sah dan diterima kecuali jika ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan syariat).

Sementara itu, mutaba’ah tidaklah terpenuhi kecuali jika amalan ibadah tersebut sesuai dengan syariat dalam enam perkara:

SEBAB (sebab secara syariat pelaksanaan ibadah tersebut)
Misalnya, seseorang melakukan shalat dua rakaat setiap kali masuk rumahnya dan menjadikannya sebagai ritual setiap masuk ke dalam rumah. Yang seperti ini tidak ada tuntunannya sehingga ibadahnya tertolak.

JENIS (jenisnya sesuai dengan tuntunan syariat)
Misalnya, seseorang berkurban dengan seekor kuda. Jenis hewan kurban yang dia lakukan menyelisihi jenis yang disyariatkan, yaitu unta, sapi, dan kambing.

KADAR (jumlah atau ukuran)
Misalnya, seseorang berwudhu dengan cara membasuh setiap anggota wudhu sebanyak empat kali. Basuhan yang keempat ini tidak diterima/tertolak karena yang ada dalam tuntutan syariat paling banyak tiga kali.

KAIFIAT (tata cara)
Tata cara pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan kaifiat yang telah dituntunkan oleh syariat. Misalnya, ada seseorang yang mengerjakan shalat dengan urutan bersujud sebelum rukuk. Kaifiatnya tidak sesuai dengan tuntunan syariat sehingga ibadah shalatnya tertolak.

WAKTU
Artinya, waktu pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan yang disyariatkan. Seandainya ada seseorang menunaikan shalat Dhuha pada sore hari, maka ibadahnya tersebut tertolak. Sebab, dia telah menempatkan shalat tersebut bukan pada waktu yang telah disyariatkan.

TEMPAT
Jika suatu ibadah memiliki tempat tertentu, ia tidak boleh dilakukan di selain tempat tersebut. Misalnya, tempat iktikaf ada adalah di masjid, maka iktikaf tidak sah jika dilakukan di selain masjid.

Berdasarkan keterangan ringkas di atas, wallahu a’lam, membaca zikir-zikir setelah shalat Dhuha dan tahajud dengan zikir-zikir yang disyariatkan dibaca setelah shalat fardu adalah termasuk amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, dari sisi kaifiat dan penempatan.

Maka dari itu, dikhawatirkan amalan tersebut termasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“BARANG SIAPA MEMBUAT SESUATU YANG BARU DALAM PERKARA AGAMA INI YANG BUKAN TERMASUK DARINYA, NISCAYA AKAN TERTOLAK.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Aisyah radhiallahu anha)

Dalam riwayat yang lain,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“BARANG SIAPA MELAKUKAN AMALAN YANG TIDAK TUNTUNAN KAMI TENTANGNYA, NISCAYA AKAN TERTOLAK.”
(HR. Muslim)

Terlebih lagi, sebagian zikir tersebut di dalam haditsnya disematkan kalimat,
فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ
“… di belakang setiap shalat wajib.”

Wallahu a’lam bish-shawab.
(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)

Sunday, 3 December 2017

Mengapa Harus Manhaj Salaf?

Bismillah,



Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf.

Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna:
Sebuah jalan yang terang lagi mudah.
(Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna:
Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. 
(Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234).

Dan dalam terminologi syariat bermakna:
Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in).
(Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah:  
Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. 


Al Imam Adz Dzahabi berkata:
“As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” 
(Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya.

Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal.

Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban).
[Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali].



Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya.

Sedangkan Allah telah berwasiat kepada kita:
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” 
(An Nisa’: 59)



Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” 
(Al Fatihah: 6-7)

Al Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” 
(Madaarijus Saalikin, 1/72).

Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” 
(An Nisa’: 115)

Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata:
“Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’” 
(Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” 
(Majmu’ Fatawa, 7/38).

Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan … akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan … dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali … na’udzu billahi min dzaalik.

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” 
(At-Taubah: 100).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata:
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” 
(Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).

Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ 

Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” 
[QS Al Baqoroh: 137]



Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” 
(Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).

Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.

Al Imam Asy Syathibi berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”
(Al I’tisham, 1/118).

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.”  
(Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas):
“Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!”  
(Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini:  
“Mereka adalah Ahlul Hadits.”
(Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata:
“Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” 
(Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“… Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: Golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” 
(Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata:
“Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:

Pertama,
bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.

Kedua,
kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.

Ketiga,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir.
[Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79].


Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.



Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:

1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.

2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.

3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.

4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:

1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata:
“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” 
(Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).

2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata:
“Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” 
(Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).

3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata:
“Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).”
(Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).

4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata:
“Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” 
(Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)

5. Al-Imam As Syathibi berkata:
“Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” 
(Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” 
(Majmu’ Fatawa, 4/149).

Beliau juga berkata:
“Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” 
(Majmu’ Fatawa, 4/155).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.


Ditulis oleh : Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi al-Atsari, Lc
Disalin dari : Majalah AsySyariah Edisi 4 |
http://asysyariah.com/mengapa-harus-manhaj-salaf/
Lain-lain murjaah : 
Majalah AsySyariah Edisi 4

Friday, 2 June 2017

Bagaimana Mengamalkan Kandungan Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah


Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, sebenarnya ikrar dua kalimat syahadat yang sering kita ucapkan itu tidak cukup sekedar di lisan saja. Namun di dalamnya terdapat beberapa konsekuensi yang harus dipenuhi. Bila seseorang tidak sanggup memenuhi kosekuensi- konsekuensi apa yang telah diikrarkan maka ibarat sebuah pengakuan tanpa bukti. Sehingga sia-sialah (percuma) pengakuannya itu. Bahkan hal itu justru menambah hina bagi dirinya, ia telah mengikrarkan sesuatu yang pada kenyataannya justru amalannya menyelisihi apa yang ia ikrarkan. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah memberikan peringatan kepada kita kaum mukminin yang tidak mau beramal dengan perkara yang telah kita ucapkan dan kita ikrarkan? Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian lakukan? Sungguh besar kemurkaan Allah jika kalian mengucapkan perkara-perkara yang kalian sendiri tidak mau mengamalkannya.”
 (Ash Shaff: 2-3)

Kita semua telah tahu bahwa dua kalimat syahadat merupakan kalimat yang mulia yang dengannya akan terbedakan antara muslim dan kafir. Ketika seseorang telah menyatakan Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah maka di antara konsekuensi yang harus dia lakukan adalah dia harus mengikhlaskan dan mempersembahkan seluruh peribadatannya hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Berdo’a[1], istighotsah[2], tawakkal[3], meminta rizki[4], takut[5], menyembelih hewan kurban[6], dan seluruh jenis ibadah[7] lainnya harus dipersembahkan kepada Allah subhanahu wata’ala semata.

Demikian juga dengan syahadat Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah, di dalamnya terkandung beberapa konsekuensi yang harus kita perhatikan dan kita amalkan. Dan Insya Allah pada buletin edisi kali ini, bahasan kita lebih terfokus pada kalimat yang kedua dari Asy Syahadatain tersebut. Karena hal ini merupakan perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan kita amalkan.


Dua Pokok Penting

Ketahuilah, wahai saudaraku seislam dan seiman, kalimat syahadat Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (atau dengan redaksi yang lebih lengkap: Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluhu) itu terkandung padanya dua pokok penting yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Dua pokok penting itulah yang Allah subhanahu wata’ala ingatkan dalam ayat-Nya (artinya)

“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diberikan wahyu kepadaku bahwa sesungguhnya sesembahan kalian itu adalah sesembahan Yang Esa.”
(Al Kahfi: 110)

Demikian pula Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga ingatkan dalam haditsnya. Dari shahabat ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya ….” 
(Muttafaqun ‘Alaihi)

Dari ayat dan hadits tersebut, kita bisa mengetahui bahwa dua pokok penting tersebut adalah:

Pokok pertama; bahwa beliau adalah manusia biasa seperti kita. Beliau mengalami apa yang selayaknya dialami pada seorang manusia. Mengalami sakit, luka, haus, lapar dan selainnya dari sifat-sifat manusia. Beliau pun tidak memiliki sifat-sifat ilahiyyah. Beliau mengajarkan kepada para shahabatnya untuk memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dari apa yang mereka butuhkan. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berdo’a sebelum salam pada shalat shubuh dengan do’a: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا وَرِزْقًا طَيِّبً
Demikian pula ketika datang musim kemarau yang berkepanjangan, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala supaya diturunkan hujan dan juga pernah shalat istisqa’ bersama para shahabatnya.
Ini semua adalah pengajaran Nabi kepada umatnya bahwa yang berhak dimintai pertolongan itu hanyalah Allah subhanahu wata’ala semata. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam itu adalah seorang hamba yang menghamba kepada Allah subhanahu wata’ala.

Lalu pantaskah kita meminta rizki, berdo’a, meminta untuk dihilangkan kesulitan kita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah menegaskan (artinya):

Katakanlah (wahai Muhammad ?): aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”
(Al An’am: 50)


Pokok kedua; bahwa beliau adalah Rasulullah (utusan Allah subhanahu wata’ala). Allah subhanahu wata’ala telah memilih Muhammad bin ‘Abdillah sebagai utusan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berhak memilih siapa di antara hamba-Nya yang terpilih untuk menyampaikan risalah dan syari’at-Nya ini kepada umat manusia. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”
(Al An’am: 124)

Dalam kedudukan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul maka kedudukannya itu tidak boleh disamakan dengan hamba Allah subhanahu wata’ala yang lain. Perintah beliau harus ditaati, nasehat dan petuah beliau harus didengarkan dan diamalkan, sabda-sabda dan kabar yang beliau sampaikan haruslah diterima dan tidak boleh didustakan, karena setiap ucapan yang keluar dari lisan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan wahyu sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

“Dan tidaklah yang diucapkannya (Nabi Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
(An Najm: 3-4)

Dua pokok inilah yang seyogyanya dipahami oleh setiap muslim sehingga dia tidak terjatuh ke dalam perbuatan Ifrath (berlebihan dalam mengkultuskan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sehingga memposisikan beliau melebihi posisi dan kedudukannya sebagai hamba Allah), dan tidak pula terjatuh ke dalam perbuatan Tafrith (meremehkan dan merendahkan kedudukan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang rasul sehingga dia cenderung untuk menolak atau meragukan tentang kebenaran risalah beliau).
Perbuatan seperti inilah yang pernah diperingatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah sabdanya:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ, إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.
“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku adalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: (Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Al Bukhari, Muslim)



Konsekuensi yang Harus Diperhatikan
Di antara konsekuensi dari pernyataan Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah adalah sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama, yaitu:


1. Mentaati Seluruh Perintahnya
Sudahkah kita berupaya untuk mendengar dan mentaati seluruh nasehat dan perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah subhanahu wata’ala mengutus Rasul-Nya sebagai qudwah (teladan) bagi umatnya? Meneladani prilaku dan akhlaknya, mengikuti petunjuknya, mematuhi perintahnya, dan menelusuri jejak dan sunnahnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul melainkan agar ditaati dengan izin Allah.”
(An Nisa’: 64)

“Dan apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (laksanakanlah) …”
(Al Hasyr: 7)

Demikian pula sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.
“Dan setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian.”
(Muttafaqun ‘Alaihi)

Inilah bukti kasih sayang beliau shalallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Tidaklah beliau memerintahkan sesuatu kepada mereka melainkan perintah itu dibatasi dengan kemampuan yang mereka miliki.
Tetapi, tahukah anda bahwa siapa saja dari umat beliau yang berupaya untuk mengikuti dan mentaati Nabinya dengan ikhlas, maka sungguh dia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya ??

Bukankah anda ingin untuk mendapatkan kecintaan dari Allah subhanahu wata’ala? Kecintaan dari Allah subhanahu wata’ala itu hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang mau mengikuti dan mentaati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(Ali ‘Imran: 31)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan. Para shahabat bertanya: Siapa orang yang enggan itu wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Beliau bersabda: Barangsiapa yang mentaatiku, dia akan masuk Al Jannah, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.” 
 (HR. Al Bukhari)


2. Membenarkan Seluruh Berita yang Disampaikan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam
Sudahkah kita membenarkan seluruh berita yang disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Pernahkah terbetik di benak kita perasaan ragu akan berita yang disampaikan beliau ??

Pembaca yang semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita, jangan ada sedikitpun perasaan ragu apalagi sampai mengingkari berita-berita yang dibawa oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidaklah beliau bersabda melainkan itu merupakan sebuah wahyu yang Allah subhanahu wata’ala wahyukan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam . Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan tidaklah yang diucapkannya (Nabi Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
(An Najm: 3-4)

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Ash Shadiqul Mashduq (yang jujur dan bisa dipercaya), setiap kabar dan berita yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, baik kabar tentang kejadian umat terdahulu maupun kejadian yang dialami Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri seperti Isra’ dan Mi’raj, dan juga kejadian yang akan datang seperti akan datangnya hari kiamat, akan adanya hari pembalasan, dan yang lainnya, maka wajib bagi kaum mukminin untuk membenarkan dan mengimaninya.

Pantaskah bagi seorang muslim untuk meragukan dan apalagi mendustakan segala berita dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau pernah bersabda:

أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ؟ يَأْتِيْنِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً.
“Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di langit (Allah)? Senantiasa datang kepadaku kabar dari langit pagi dan petang.”
(Muttafaqun ‘Alaihi)


3. Menjauhi Semua Larangannya
Sudahkah kita meninggalkan dan menjauhi setiap perkara yang dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Berapa banyak peringatan dan larangan dari beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang kita langgar dan kita selisihi? Pertanyaan ini hendaknya menjadi renungan bagi kita semua karena sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menegaskan dalam Al Qur’an (artinya):
“… dan apa yang dilarangnya (Rasulullah), maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
Demikian pula sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ
“Setiap yang aku larang bagi kalian, maka jauhilah …” 
(Muttafaqun ‘Alaihi)

Para pembaca yang semoga Allah memberikan hidayah kepada kita, kalau masihkah ada di antara kita yang menyelisihi apa-apa yang dilarang oleh junjungan kita shalallahu ‘alaihi wasallam , maka hendaknya segera bertaubat dan beristighfar sebelum ajal menjemputnya. Rahmat Allah itu luas, pintu taubat masih terbuka lebar-lebar. Padahal Allah subhanahu wata’ala itu benar-benar mencintai hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat kepada-Nya. Karena dikhawatirkan kalau sekiranya kita menyelisihi dan melanggar sabda Rasul-Nya, Allah akan menurunkan adzab-Nya kepada kita. Sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) takut akan ditimpa fitnah (bencana) dan adzab yang pedih.”
(An Nur: 63)


4. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala Sesuai dengan Tuntunan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam
Sudahkah ibadah yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan beliau ?? Sudahkah amal ibadah yang kita lakukan sesuai dengan bimbingan beliau ?? Tentunya kita khawatir akan terjerumus ke dalam apa yang pernah diingatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” 
(HR. Muslim)




Wahai saudaraku yang mulia, seyogyanya bagi kita semua selalu berupaya untuk menyesuaikan segala amal ibadah kita dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena tujuan utama diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ke muka bumi ini adalah dalam rangka mengajari umat manusia bagaimana cara ibadah yang benar kepada Allah subhanahu wata’ala. Itulah hikmah kenapa syahadat Muhammadar Rasulullah diletakkan syahadat Laa Ilaaha Illallah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Amien, ya Rabbal ‘alamin.



Disalin daripada:

Lain-lain murajaah:

Friday, 31 March 2017

Makna LAA ILAAHA ILLALLAH dan Syarat-Syaratnya

Oleh : Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala
س ١ – ما هي شروط “لا إله إلا الله” ومعناها؟
ج ١ – اعلم يا أخي المسلم -هدانا الله وإياك- أن “لا إله إلا الله” مفتاح الجنة، ولكن ما من مفتاح إلا وله أسنان، فإن جئت بمفتاح له أسنان فتح لك، وإلا لم يفتح لك.
وأسنان هذا المفتاح هي شروط “لا إله إلا الله” الآتية:
(١) العلم بمعناها: وهو نفي المعبود بحق عن غير الله، وإثباته لله وحده.
قال الله – تعالى: {فاعلم أنه لا إله إلا الله} [محمد: ١٩]
(أي لا معبود في السموات والأرض بحق إلا الله).
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة” [رواه مسلم]

Pertanyaan 1:
Apa saja syarat LAA ILAAHA ILLALLAH dan apa maknanya ?
Jawaban :
Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga ALLAH memberi hidayah kepada kita dan engkau- sesungguhnya LAA ILAAHA ILLALLAH adalah kunci surga, akan tetapi tidak ada satupun kunci melainkan pasti memiliki gigi-gigi sehingga kalau engkau membawa kunci yang memiliki gigi-gigi tersebut maka pasti pintu akan terbuka untukmu dan kalau tidak maka pintu tidak akan terbuka untukmu.


Dan gigi-gigi dari kunci surga tersebut adalah 
syarat-syarat LAA ILAAHA ILLALLAH berikut ini :

1. BERILMU
tentang maknanya yaitu meniadakan seluruh sesembahan selain ALLAH dan menetapkan sesembahan yang haq hanyalah bagi Allah.
ALLAH ta’ala berfirman : 
“Ketahuilah tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali ALLAH.”
(QS. Muhammad : 19)

Yakni : tidak ada sesembahan yang hak di langit maupun di bumi kecuali ALLAH.
Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan dia mengetahui bahwasannya tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali ALLAH maka dia akan masuk surga.” 
(HR. Muslim)

(٢) اليقين المنافي للشك: وذلك أن يكون القلب مستيقنا بها بلا شك.
قال الله تعالى: {إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا …} (لم يرتابوا: أي لم يشكوا). [الحجرات: ١٥]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: أشهد ان لا إله إلا الله، وأني رسول الله لا يلقى الله بهما عبد غير شاك فيحجب عن الجنة” [رواه مسلم]



2. AL-YAKIN
yang meniadakan keraguan : yaitu hati dia yakin dengan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH dan tidak ada keraguan.
ALLAH ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada ALLAH dan Rasul-NYA kemudian dia tidak memiliki keraguan…” 
(QS. Al-Hujarat : 15)

Lam yartaabu maknanya tidak ragu
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
“Syahadat LAA ILAAHA ILLALLAH wa Muhammad Rasulullah, tidak ada seorangpun yang berjumpa dengan ALLAH dengan kedua kalimat tersebut dengan tanpa keraguan, sungguh dia tidak akan terhalangi dari surga.”
(HR. Muslim)

(٣) القبول لما اقتضته هذه الكلمة بقلبه ولسانه. قال الله -تعالى- حكاية عن المشركين: {إنهم كانوا إذا قيل لهم لا إله إلا الله يستكبرون (٣٥) ويقولون أئنا لتاركو آلهتنا لشاعر مجنون} [الصافات: ٣٥]
(أي يستكبرون أن يقولوها كما يقولها المؤمنون) [ذكره ابن كثير]
وقال – صلى الله عليه وسلم -:”أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله، فمن قال لا إله إلا الله فقد عصم مني ماله ونفسه إلا بحق الإسلام وحسابه على الله -عز وجل-” [متفق عليه]



3. MENERIMA
dari kalimat syahadat tersebut dengan hati dan lisannya.

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila diseru kepada kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH mereka menyombangkan diri dan mereka mengatakan apakah kita akan meninggalkan sesembahan kita hanya karena ucapan seorang penyair yang gila?.”
(QS. As-Shoffat : 35)
Yaitu mereka sombong dari mengucapkan syahadat yang mana kaum mu’minin mengucapkannya (disebutkan oleh Ibnu Katsir)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH, maka siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH maka harta dan jiwanya terjaga dariku kecuali dengan hak Islam dan hisabnya diserahkan kepada ALLAH azza wajalla.”
(Muttafaqun alaihi)

(٤) الإنقياد والإستسلام لما دلت عليه.
قال الله تعالى: {وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له} [الزمر: ٥٤]
(أي ارجعوا إلى ربكم واستسلموا له) [ذكره ابن كثير]



4. TUNDUK DAN BERSERAH DIRI
dengan apa yang ditunjukkan oleh kalimat syahadat tersebut.
ALLAH ta’ala berfirman :
“Dan kembalilah kalian kepada Robb kalian dan berserah dirilah kepada-NYA.”
(QS. Az-Zumar : 54)

yaitu kembalilah kalian kepada Robb kalian dan berserah dirilah kepada-NYA (disebutkan oleh Ibnu Katsir -rahimahullah-)

(٥) الصدق المنافي للكذب، وهو أن يقولها صدقا من قلبه.
قال الله تعالى: {الم (١) أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون (٢) ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين} [العنكبوت: ١ – ٣]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدا عبده ورسوله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار” [متفق عليه]



5. JUJUR
yang meniadakan kedustaan, yaitu dia mengucapkan kalimat syahadat tersebut dengan jujur dari hatinya
ALLAH ta’ala berfirman :
“Alif lam mim. Apakah manusia menyangka akan dibiarkan mengatakan kami telah beriman dan mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang sebelum mereka dan sungguh ALLAH mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-Ankabut : 1-3)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Tidak ada seorang pun yang bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH wa Anna Muhammad Rasulullah dengan jujur dari hatinya melainkan ALLAH akan mengharamkan atasnya neraka.”
(Muttafaqun ‘alaihi)

(٦) الإخلاص: وهو تصفية العمل بصالح النية عن جميع شوائب الشرك.
قال الله تعالى: {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [البينة: ٥]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “أسعد الناس بشفاعتي من قال: لا إله إلا الله خالصا من قلبه، أو نفسه” [رواه البخاري ج ١/ ١٩٣]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “إن الله حرم على النار من قال: لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله -عز وجل-“. {رواه مسلم ج ١/ ٤٥٦]



6. IKHLAS
yaitu memurnikan seluruh amal sholeh dari segala bentuk kotoran-kotoran syrik
ALLAH ta’ala berfirman :
“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah hanya kepada ALLAH dengan mengikhlaskan agama ini hanya untuk-NYA.”
(QS. Al-Bayyinah : 5)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Manusia yang paling beruntung dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH murni dari hatinya atau dari jiwanya.”
(HR. Al-Bukhori : 1/193)

Dan beliau juga bersabda : 
“Sesungguhnya ALLAH mengharamkan neraka bagi siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharapkan wajah ALLAH ‘azza wajalla.”
(HR. Muslim : 1/456)

(٧) – المحبة لهذه الكلمة الطيبة، ولما اقتضت ودلت عليه، ولأهلها العاملين بها الملتزمين بشروطها، وبغض ما ناقض ذلك.
قال الله تعالى: {ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله} (أندادا: شركاء). [البقرة: ١٦٥]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا الله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه، كما يكره أن يقذف في النار” [متفق عليه] (بتصرف من كتاب الولاء والبراء للدكتور محمد سعيد القحطاني)



7. CINTA
yaitu mencintai kalimat syahadat yang mulia ini dan mencintai konsekuensi yang dikandungnya dan mencintai orang-orang yang komitmen beramal dengan syarat-syaratnya dan membenci siapa saja yang menentang kalimat tersebut.
ALLAH ta’ala berfirman :
“Dan diantara manusia ada yang mencintai tandingan-tandingan selain ALLAH seperti kecintaan kepada ALLAH, adapun orang yang beriman sangat cinta kepada ALLAH.”
(QS. Al-Baqoroh : 165)
An-Dadan ( أندادا ): yaitu sekutu-sekutu
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada tiga perkara yang siapa mendapatinya maka dia akan mendapatkan manisnya keimanan : dia lebih mencintai ALLAH dan Rasul-NYA dari selainnya, dia mencintai seseorang karena ALLAH, dan dia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah ALLAH menyelamatkannya sebagaimana dia tidak mau dilemparkan ke dalam api.”
(Muttafaqun ‘alaihi)

٨ – أن يكفر بالطواغيت وهي المعبودات من دون الله، ويؤمن بالله ربا ومعبودا بحق.
قال الله تعالى: {فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها} [البقرة: ٢٥٦]
وقال – صلى الله عليه وسلم -: “من قال لا إله إلا الله، وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه” [رواه مسلم]



8. MENGINGKARI THOGHUT-THOGHUT
Thogut yaitu sesembahan-sesembahan selain ALLAH dan beriman kepada ALLAH Robb dan sesembahan yang hak.

ALLAH ta’ala berfirman : 
“Maka barangsiapa yang ingkar kepada thogut dan beriman kepada ALLAH maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat yang tidak akan terputus.” 
(QS. Al-Baqoroh : 256)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain ALLAH maka harta dan darahnya diharamkan.” 
(HR. Muslim)


Rujukan :
Majmu’ah Rasa`il at Taujihat al Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’. [Jilid 1 hal. 248-250]


Disalin dari (dengan sedikit redaksi):
WhatsApp Salafy Kendari
Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

Lain-lain murajaah:







Majalah Fiqih Islami FAWAiD/No.6/Vol.2 Rajab-Sya'ban 1435H/ms3/Syarat-Syarat Tauhid oleh Ustadzuna Muhammad Umar as-Sewed hafizhahullah

Sunday, 22 January 2017

Mu’tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal



Suatu ketika, Nurcholis Madjid pernah melontarkan gagasan untuk memaknai kalimat Laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada tuhan selain Tuhan’. Sumbang idea itu membuat geger muslimin Indonesia. Betapa tidak. Dengan ideanya itu, dia telah memasukkan orang-orang kafir yang percaya dengan keberadaan Tuhan sebagai seorang muslim. Ini hanya satu contoh dari berbagai gagasan kontroversial para pemuja akal di Indonesia. Mereka tak lebih dari para pengekor ajaran Mu’tazilah, yang sudah muncul di masa al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.


Sejarah Munculnya Mu’tazilah
Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105—110 H, tepatnya di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah, mantan murid al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang bernama Washil bin Atha’ al-Makhzumi al-Ghazzal. Ia lahir di kota Madinah pada 80 H dan mati pada 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid (seorang pemuka Qadariyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari takdir dan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala.
(Lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821, Siyar A’lam an-Nubala, karya adz-Dzahabi, 5/464—465, dan al-Milal wan-Nihal, karya asy-Syihristani hlm. 46—48)

Seiring dengan beredarnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak pecahannya. Sampai akhirnya para pemuka mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah al- Makmun. Sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, –pen.).
(al-Milal wan-Nihal, hlm. 29)

Oleh kerana itu, tidaklah aneh apabila kaidah nombor satu mereka berbunyi,
Akal lebih didahulukan daripada syariat (al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’, –pen.) dan akallah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Apabila syariat bertentangan dengan akal—menurut persangkaan mereka—, sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil.”
(Lihat kata pengantar kitab al-Intishar fir Raddi ‘alal Mu’tazilatil-Qadariyah al-Asyrar, 1/65)


Mengapa Disebut Mu’tazilah?
Mu’tazilah, secara etimologis bermakna orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak dapat dipisahkan dengan sosok al-Hasan al-Bashri rahimahullah, salah seorang imam di kalangan tabi’in.

Asy-Syihristani rahimahullah berkata, (suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada al-Hasan al-Bashri rahimahullah seraya berkata, “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini kelompok yang mengafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Mereka adalah kaum Khawarij. Adapun kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam mazhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?”
Al-Hasan al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh, “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir. Ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir.”
Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-murid al-Hasan al-Bashri lainnya. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah lantas berkata,

اِعْتَزَلَ عَنَّا وَاصِلُ
“Washil telah memisahkan diri dari kita.” Disebutlah dia dan para pengikutnya dengan Mu’tazilah.
(al-Milal wan-Nihal hlm. 47—48 )

        Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh al-Hasan al-Bashri dengan jawaban Ahlus Sunnah wal Jamaah, “Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut mukmin. Karena dosa besarnya, ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna).”
(Lihat kitab Lamhah ‘Anil-Firaq adh-Dhallah, karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 42)


Asas dan Landasan Mu’tazilah
Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnyalah prinsip-prinsip mereka dibangun. Asas dan landasan itu mereka sebut dengan al-Ushulul Khamsah (lima landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut.

Landasan Pertama: At-Tauhid
Yang mereka maksud dengan at-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada ALLAH subhanahu wa ta’ala, menurut mereka.
(Firaq Mu’ashirah, 2/832)
Oleh karena itu, mereka menamakan diri dengan ahlut tauhid atau alMunazihuuna lillah (orang-orang yang menyucikan ALLAH subhanahu wa ta’ala).

Bantahan:
  1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Dalil ini sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang menerangkan tentang kebatilannya. Adapun dalil sam’i, ALLAH subhanahu wa ta’ala menyifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat yang begitu banyak, padahal DIA Dzat Yang Maha Esa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ١٢  إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ١٣  وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلۡوَدُودُ ١٤ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ١٥  فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ١٦
“Sesungguhnya azab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya DIA-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), DIA-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-NYA.”
(al-Buruj: 12—16)

سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى ١  ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ٢  وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ٣  وَٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ ٱلۡمَرۡعَىٰ ٤  فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحۡوَىٰ ٥
“Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan (penciptaan-NYA), Yang Menentukan takdir (untuk masing-masing) dan Memberi Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan rerumputan itu kering kehitam-hitaman.”
(al-A’la: 1—5)

Adapun dalil ‘aqli, sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang disifati. Jadi, ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan, tidak menunjukkan bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai macam sifat….”
(al-Qawa’idul Mutsla, hlm. 10—11)
  1. Menetapkan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk bukanlah bentuk kesyirikan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ar-Risalah al-Hamawiyah, “Menetapkan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala tidak termasuk meniadakan kesucian ALLAH subhanahu wa ta’ala, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan ALLAH subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-NYA.”
Bahkan, hal ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Adapun yang meniadakannya, jesteru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebab, sebelum meniadakan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala tersebut, mereka terlebih dahulu menyamakan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala dengan sifat makhluk-NYA. Lebih dari itu, ketika mereka meniadakan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala yang sempurna itu, sungguh mereka telah menyamakan ALLAH subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Sebab, tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa mempunyai sifat sama sekali.
Oleh kerana itu, Ibnul-Qayyim rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan ‘Abidul-Ma’duum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). (Untuk lebih rincinya lihat kitab at-Tadmuriyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 79—81)
Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Mu’aththilah, dan penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.

Landasan kedua: al-‘Adl (keadilan)
Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari ALLAH subhanahu wa ta’ala, sedangkan kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) ALLAH subhanahu wa ta’ala. Dalilnya adalah firman ALLAH subhanahu wa ta’ala,

وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥
“Dan ALLAH tidak suka terhadap kerusakan.”
(al-Baqarah: 205)

وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ
“Dan DIA tidak meridhai kekafiran bagi hamba-NYA.”
 (az-Zumar: 7)

Menurut mereka, kesukaan dan keinginan adalah kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Dengan demikian, mustahil bila ALLAH subhanahu wa ta’ala tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan terjadinya (menakdirkannya). Oleh kerana itu, mereka menamakan diri dengan Ahlul-‘Adl atau al-‘Adliyyah.

Bantahan:
Asy-Syaikh Yahya bin Abil-Khair al-‘Imrani rahimahullah berkata, “Kita tidak sepakat bahwa kesukaan dan keinginan itu satu. Dasarnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٢
“Maka sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang kafir.”
(Ali ‘Imran: 32)

Padahal kita semua tahu bahwa ALLAH subhanahu wa ta’ala lah yang menginginkan adanya orang-orang kafir tersebut dan DIA-lah yang menciptakan mereka.
(al-Intishar Firraddi ‘ala al-Mu’tazilatil-Qadariyyah al-Asyrar, 1/315)

Lebih-lebih lagi ALLAH subhanahu wa ta’ala telah menyatakan bahwasanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan-NYA. ALLAH subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ
“Dan kalian tidak akan mampu menghendaki (jalan itu), kecuali bila dikehendaki ALLAH.”
(al-Insan: 30)

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ٩٦
“Padahal ALLAH-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”
 (ash-Shaffat: 96)

Dari sini kita tahu, ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai kedok untuk mengingkari kehendak ALLAH subhanahu wa ta’ala yang merupakan bagian dari takdir ALLAH subhanahu wa ta’ala. Atas dasar inilah mereka lebih pantas disebut dengan Qadariyyah, Majusiyyah, dan orang-orang yang zalim.

Landasan Ketiga: Al-Wa’du wal Wa’id
Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi ALLAH subhanahu wa ta’ala untuk memenuhi janji-NYA (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-NYA (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam an-Nar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi ALLAH subhanahu wa ta’ala untuk menyelisihinya. Kerana inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.

Bantahan:
  1. Seseorang yang beramal saleh (sekecil apa pun) akan mendapatkan pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena termasuk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan terhadap firman-Nya,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ ٩
“Sesungguhnya ALLAH tidak akan menyelisihi janji(NYA).”
(Ali ‘Imran: 9)

Bahkan, ALLAH subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi diri-NYA sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba-NYA. Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari ALLAH subhanahu wa ta’ala kerana dosa besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan kehendak ALLAH subhanahu wa ta’ala. DIA Maha Berhak untuk melaksanakan ancaman-NYA dan Maha Berhak pula untuk tidak melaksanakannya, kerana DIA telah menyifati diri-NYA dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terlebih lagi Dia telah menyatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ
“Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-NYA.”
(an-Nisa: 48)
(Diringkas dari kitab al-Intishar Firraddi ‘Alal Mu’tazilatil Qadariyyah al-Asyrar, 3/676, dengan beberapa tambahan)
  1. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di an-Nar, maka sangat bertentangan dengan firman ALLAH subhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisa ayat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Telah datang Jibril kepadaku dengan suatu khabar gembira, bahawasanya siapa saja dari umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada ALLAH subhanahu wa ta’ala nescaya akan masuk ke dalam al-jannah.”
Aku (Abu Dzar) berkata, “Walaupun berzina dan mencuri?”
Beliau menjawab, “Walaupun berzina dan mencuri.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Landasan Keempat: Suatu keadaan di antara dua keadaan
Yang mereka maksud adalah bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik), maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).

Bantahan:
  1. Keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا
“Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-NYA, maka bertambahlah keimanan mereka.”
(al-Anfal: 2)

Juga firman-NYA,

وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”
(at-Taubah: 124—125)

Dan firman-NYA,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ٤
“DIA-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan ALLAH -lah tentara langit dan bumi dan adalah ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(al-Fath: 4)

وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ٣١
Dan tiada KAMI jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah KAMI menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cubaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin, supaya orang yang beriman bertambah imannya, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah yang dikehendaki ALLAH dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?”
Demikianlah ALLAH menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-NYA dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-NYA. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan DIA sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.
(al-Muddatstsir: 31)

 ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣
“(Iaitu) orang-orang (yang menaati ALLAH dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah ALLAH menjadi Penolong kami dan ALLAH adalah sebaikbaik Pelindung’.”
(Ali ‘Imran: 173)

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.”
ALLAH berfirman, “Belum yakinkah kamu?”
Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)….”
(al-Baqarah: 260)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Keimanan itu (mempunyai) enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang/tingkat, yang paling utama ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan dari keimanan secara mutlak.
Ia masih sebagai mukmin namun kurang iman, kerana ALLAH subhanahu wa ta’ala masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-NYA,

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling berperang, maka damaikanlah antara keduanya….”
(al-Hujurat: 9)

Landasan Kelima: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim.

Bantahan:
Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
ALLAH subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah ALLAH dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pimpinan) di antara kalian.”
(an-Nisa: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.”
(Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata), “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku menjumpai mereka?”
Beliau menjawab, “Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.”
(HR. Muslim, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu). Untuk lebih rincinya, lihat majalah Asy–Syari’ah edisi Menyikapi Kejahatan Penguasa.


Sesatkah Mu’tazilah?
Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu bagaimana bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka punyai seperti:
  • Mendahulukan akal daripada al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ ulama.
  • Mengingkari azab kubur, syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk para pelaku dosa, ru’yatullah (dilihatnya ALLAH subhanahu wa ta’ala) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat, ash-Shirath (jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Padang Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah diciptakannya al-Jannah dan an-Naar (saat ini), turunnya ALLAH subhanahu wa ta’ala ke langit dunia setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir), dan lain sebagainya.
  • Hukum mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertempuran Jamal dan Shiffin (dari kalangan sahabat dan tabi’in), bahwa mereka adalah orang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Kita sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak mukmin dan juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-nar.
  • Meniadakan sifat-sifat ALLAH subhanahu wa ta’ala, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan kesyirikan. Namun ternyata mereka menakwil sifat Kalam (berbicara) bagi ALLAH subhanahu wa ta’ala dengan sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa al-Qur’an itu makhluk, bukan kalamullah. Demikian pula mereka menakwil sifat Istiwaa’ ALLAH subhanahu wa ta’ala dengan sifat Istilaa’ (menguasai).
Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi ALLAH subhanahu wa ta’ala merupakan kesyirikan, mengapa mereka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa’ bagi ALLAH subhanahu wa ta’ala?!
(Lihat kitab al-Intishar Firraddi Alal-Mu’tazilatil-Qadariyyah al-Asyrar, al-Milal wan Nihal, al-Ibanah ‘an Ushulid-Diyanah, Syarh al-Qashidah an-Nuniyyah, dan ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘alal Jahmiyyatil-Mu’aththilah)

Para pembaca, betapa nyata dan jelasnya kesesatan kelompok pemuja akal ini. Oleh kerana itu, al-Imam Abul-Hasan al-Asy’ari (yang sebelumnya sebagai tokoh Mu’tazilah) setelah mengetahui kesesatan mereka yang nyata, berdiri di masjid pada hari Jum’at untuk mengumumkan bara’ (berlepas diri) dari mazhab Mu’tazilah. Beliau melepas pakaian yang dikenakannya seraya mengatakan, 

“Aku lepas dari mazhab Mu’tazilah sebagaimana aku melepas pakaianku ini.” 

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala beri karunia beliau hidayah untuk menapak manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka beliau tulis sebuah kitab bantahan untuk Mu’tazilah dan kelompok sesat lainnya dengan judul al-Ibanah ‘an Ushulid-Diyanah.
(Diringkas dari kitab Lamhah ‘Anil-Firaq Adh-Dhallah, hlm. 44—45)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

 Terjemahan ke bahasa Malaysia dengan pantauan al-Ustadz Qomar Su'aidi hafizhahullah.